Minggu, 23 November 2008

Ngadilangkung'98 mungkin terasa aneh di dengar bagi kebanyakan orang, tapi tidak bagi kami! Kami yang pernah merasakan nafas Ngadilangkung rasanya tak akan mudah begitu saja terlupakan.
Ngadilangkung, sebuah desa di Malang (entah Malang bagian mana...lupa..). Asri dan begitu banyak menyajikan keramahan. Alamnya yang sejuk mampu menjadikan kami begitu betah tinggal di desa yang penduduknya kebanyakan bermatapencaharian petani.

Di sanalah sebulan lebih saya dan 31 teman lainnya (tahun 1998) mengabdi (cie...cie...mengabdi ni.....ye!!!).
Kuliah Kerja Nyata alias KKN menjadi keindahan tersendiri di sini. Kami yang berasal dari beragam fakultas menyatu dalam satu ide, satu gagasan dan satu tujuan. Meski pada kenyataannya begitu sulit memadukan keinginan. Ya...namanya juga mahasiswa, selalu ingin menunjukkan eksistensinya. Banyak hal terjadi di sana. Banyak cerita bergulir dengan sendirinya. Semua begitu saja mengalir. Kesedihan, kedukaan bahkan kebahagiaan menjadi keutuhan tersendiri. Dalam pengabdian kami di sana, nampak nyata bahwa kehidupan adalah sebuah kondisi di mana kita harus bisa mengkondisikan diri dengan adaptasi pada budaya yang berbeda. Kami yang biasanya dininabobokan dengan selimut nyaman, dengan iringan musik yang lembut, dalam sekejap harus menyesuaikan diri dengan keadaan tidur yang hanya dilapisi karpet kasar yang sesekali menimbulkan rasa gatal di kulit. Kami yang biasanya melihat anak-anak bersekolah dengan rapi dan wangi, saat itu harus berhadapan dengan sang anak yang bertelanjang kaki. Namun apa pun pemandangan yang kami saksikan adalah sebuah hikmah yang tiada tara bagi kami.
Betapa tidak! Begitu banyak pengalaman baru yang aku rasakan di sini. AKu yang Fak. Hukum harus bisa menjadi seorang guru Tk. Aku masih ingat saat itu aku memiliki murid-murid yang lucu, alami dan polos. Yang tak pernah aku lupakan adalah saat aku bertanya "ayo siapa di rumahnya yang memiliki pohon bunga?" Semua anak mengangkat telunjuknya. Lalu aku bertanya kepada seorang anak (lupa lagi namanya)," Bunga apa yang ditanam di rumah?" Dia menjawab "Bunga mawar bu!' Selanjutnya semua anak satu persatu bersuara menyebutkan nama bunga, dan ada seorang anak laki-laki dengan lantangnya menjawab "bunga belimbing, bunga mangga, bunga jambu!"Aku tertawa mendengarnya. Kemudian aku dekati anak itu. Dia sedikit kumal namun memiliki sorot mata yang tajam. Di antara anak yang lainnya, anak ini cukup menonjol. meski nakal namun dia memiliki keberanian untuk tampil. Tanpa rasa sungkan si anak ini mengatakan bahwa di rumahnya memang tak ada pohon bunga. "Aku takut bohong, jadinya aku bilang saja bunga belimbing...."Begitu katanya.
Orang bilang KKN adalah bagian program S1 yang sangat dinantikan mahasiswanya. Apa benar ya? Yup...aku katakan begitu sebab memang masa-masa KKN adalah masa yang membuat para mahasiswa bisa sedikit lupa pada tugas-tugasnya. Selama sebulan kami tidak berhadapan dengan kebosanan di kampus, selama sebulan tidak juga bertemu dengan dosen-dosen yang terkadang membuat kita seperti dididik untuk selalu siap siaga mendapatkan tugas, selama itu pula kita bisa leluasa menikmati alam lain dari tempat tinggal kita. Namun tidak semuanya memberikan kebahagiaan, sebab bagi mereka yang meninggalkan kekasihnya, jelas waktu sebulan adalah jam yang sangat lama untuk tidak bersua. Namun bukan mahasiswa rasanya (heheheh...) jika KKN tanpa diselingi dengan kisah asmara. Ya...perselingkuhan bisa terjadi di sini. Mau bukti? ....(Duh....jadi bingung nich bercerita).
Hahahaha....aku jadi ingat, di KKN ini aku pun memiliki kisah yang paling unik. Jatuh dari sepeda ontel karena rantainya putus. Bersama si Afif (Pak Kyai tuh), sore itu aku jalan-jalan mengelilingi desa, padahal sore itu ada jadwal olahraga bersama masyarakat setempat. Ya...begitulah, curi-curi waktu yang terjadi adalah musibah. Saat sepeda berada di jalan yang menurun, tiba-tiba rantai putus, otomatis rem pun tak berfungsi, sebagai cara menyelamatkan diri, Afif berteriak menyuruhku lompat. Masya Allah! Aku sedikit takut mengingat di pingiran jalan adalah sungai yang rimbun tertutup pepohonan. Alhamdulilah Tuhan menyelamatkan aku...hingga menjelang senja aku dan Afif baru samapi di "camp" yang disambut dengan gelak tawa saat aku bercerita.
Ada juga kisah temanku yang jatuh cinta pada temanku juga. Sayangnya mereka tidak sampai jadian (ya...pedekate aja...), namun sempat membuat temanku tersayat hatinya. Ada juga yang karena kegiatan ini mendaptakan jodoh. Halo Bu Irma, pa kabar neh...masih bersuamikan Iwan kan? Lalu Mas Faruk...dengan Robiah..terus siapa lagi ya...lupa...oh...ia..yang tentara itu (duh...forget lagi namanya)...Wiwie..yang kini jadi Bu Kyai, I mizzzzzzzzz u. Si Ririet yang super tegar, lalu Dwi..(kemana aja bu????), lalu Jordan...(LOve...u All dech!)
Semoga persahabatan kita tetap utuh meski kata tak lagi bertaut!
Begitulah KKN Ngadilangkung.....teramat banyak kisah yang sudah tertoreh....




Tidak ada komentar: